13 November 2009

Teori Situasional

Toeri ini dikemukakan oleh Hersey-Blanchard. Dalam teori ini dikatakan bahwa seorang pemimpin yang sukses melakukan penyesuaian pada cara dia memimpin. Yang menjadi kunci dalam mengadakan penyesuaian adalah kedewasaan follower, yang mana dilihat dari kesiapan untuk melakukan suatu pekerjaan pada situasi tertentu. Kesiapan tersebut sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu : kemampuan (ability) follower dan kemauan (will) dari follower.

Dilihat dari kemampuan dan kemauan follower, maka follower dapat dibedakan menjadi 4 kategori, yaitu :
  1. tidak mampu dan tidak mempunyai kemauan (unable and unwilling)
  2. tidak mampu dan mempunyai kemauan (unable and willing)
  3. mampu dan tidak mempunyai kemauan (able and unwilling)
  4. mampu dan mempunyai kemampuan (able and willing)
Untuk setiap macam kategori follower tersebut, cara yang digunakan untuk memimpin berbeda. Yaitu :

1. Directing (unable and unwilling)
  • Telling dapat dilakukan dengan cara memberi arahan tugas secara terperinci dan mengawasi pekerjaannya secara seksama
2. Coaching (unable and willing)
  • Menjelaskan apa yang harus dikerjakan follower dengan cara men-support dan membujuk
3. Supporting (able and unwilling)
  • Menekankan untuk saling berbagi ide dan mengikutsertakan follower dalam pengambilan keputusan
4. Delegating (able and willing)
  • Memberi grup ini tanggung jawab untuk tugas - tugasnya dan pengambilan keputusan
Berikut ini adalah skema yang menggambarkan cara memimpin follower dari segi kemampuan dan kemauan :


Teori ini tidak hanya berlaku dalam dunia bisnis. Akan tetapi dapat juga berlaku dalam kehidupan seharian kita. Misalnya : organisasi, sekolah, kuliah, berteman, dan lain - lain.

Menurut saya sendiri, teori ini cukup bagus apabila dapat diterapkan dalam kehidupan sehari - hari. Misalnya : ada teman yang minta tolong diajari suatu matapelajaran. Kita dapat menilai teman kita tersebut, kira - kira dia masuk kategori yang mana. Setelah itu:
  1. Apabila dia tidak mampu dan tidak mempunyai kemauan untuk belajar, maka kita harus memberitahu dia list pekerjaan yang harus dia lakukan untuk dapat menguasai matakuliah tersebut dan kita harus mengawasi dia dalam proses belajar.
  2. Apabila dia tidak mampu tetapi mempunyai kemauan, maka kita dapat memberi tahu dia apa yang harus dilakukan dan mendukungnya untuk maju.
  3. Apabila dia mampu tetapi tidak mempunyai kemampuan, kita harus memaksa dia untuk berpikir, berpartisipasi dalam berpendapat dan berbagi ide.
  4. Apabila dia mampu dan mempunyai kemauan, maka kita hanya perlu memberi petunjuk saja.
Termasuk dalam kategori manakah Anda?

3 komentar:

  1. kayanya aq nomer 5...
    tidak mampu, punya kemauan tapi tetap tidak mampu... namun kadang2 cuma punya kemauan dan tidak mau berpikir...

    gmn solusinya?

    BalasHapus
  2. itu kan masuk nomer 2....
    solusinya, cari suami yang kaya raya, biar ga perlu mikir...ciakakaka

    BalasHapus
  3. g maoo... kaya ato ga.. ga masalah.. hehehehe
    aq pengen kaya usaha sendiri.. wkwk

    BalasHapus